“Pemilu 2014 Menuju Indonesia yang lebih …. (silahkan diisi sendiri)” Cerita bersambung, bagian 1 – Caleg.

Opini

Gambar

Pemilu seperti yang kita tahu adalah sebuah ajang pesta demokrasi untuk memlilih para pemimpin dan wakil rakyat di negeri ini, walaupun dari dulu saya tidak pernah mengerti apa esensi sebenarnya selain euphoria sementara, lumayan ada hiburan setiap 5 tahun. Pertama saya ingin menyinggung tentang  hal pemilihan caleg baik itu anggota DPR/DPRD, begitu banyak calonnya. Entah atas dasar apa kalimat yang menghiasi poster-poster maupun spanduk bahkan baliho para caleg tersebut kebanyakan berbunyi “Jangan Lupa Coblos saya, partai X no.sekian xxxxx”. Saya hanya bisa heran, dan bertanya-tanya. Siapa anda? Mengapa kami sebagai pemegang hak suara (terutama pemilih pemula) harus memilih anda? Apa kontribusi yang anda sudah berikan sehingga berhak atas suara kami?  Terus dengan angkuhnya anda menulis JANGAN LUPA. Belum lagi poster,spanduk,baliho anda yang terpajang menjadi sampah visual perusak pemandangan dimana-mana. Saya sudah membenci anda duluan bahkan sebelum pemungutan suara dimulai.

Dalam benak  utopis saya alangkah baiknya jika ada seseorang yang ingin maju menjadi calon anggota legislative  tersebut  haruslah melewati suatu ‘ tes kualifikasi’  melakukan kerja nyata dan kontribusi terlebih dahulu di dapil mereka masing-masing, sehingga dikenal dan ibaratnya telah mendapat restu masyarakat,  sebelum diajukan oleh partai masing-masing  maju berebut suara dengan caleg-caleg  partai lainnya yang juga telah lulus tes kualifikasi tersebut. Pemilihan caleg pasti akan lebih ramai, membawa manfaat bagi umat.

Dengan system pemilihan caleg yang sekarang ini sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya caleg yang bermodal kuat yang menang. Pengalaman pribadi saya pernah ikut kongkow-kongkow atau berkumpul dengan pemilih-pemilih yang sudah masuk kategori senior alias bapak-bapak warga sekitar, di pos ronda. “Pemilihan caleg nanti nyoblos siapa pak? Pakde kaseri atau achmad saad gagahrani?” (2 caleg dapil daerah perumahan saya yang spanduknya dimana-mana)  “Yang ngasih lembaran merah ae, biru sekarang mah kurang.” Disambut tawa 1 pos ronda. Kenapa demikian? Jangan salahkan warga bermental seperti itu, salahkan systemnya. Gimana mau memilih wakil yang terbaik kalau kenal saja tidak? Warga biasa yang awam tentu saja lebih memilih yang memberi ‘lembaran merah’ daripada yang tidak memberi sama sekali. Demikian juga caleg yang mengeluarkan uang, target pertama dan yang utama adalah balik modal dan memperoleh keuntungan finansial, bukannya menjalankan mandatnya begitu sudah terpilih duduk di DPR/DPRD.  Pengen Nyaleg? Berani pasang Modal berapa? Nomor urut 1 partai X tidak murah loh. Tidak terpilih silahkan ke RSJ terdekat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s